Dalam rangka memperingati hari Kartini, PAUD Aisyiyah 4 Latukan Karanggeneng Lamongan ikut memeriahkan Gebyar PAUD untuk memberi kesempatan kepada peserta didik dalam mengembangkan bakat dan talenta yang mereka miliki salah satunya dengan menampilkan kreasi "Fashion Show"
Slide
Kamis, 25 April 2013
Selasa, 23 April 2013
Rapat Kepala MI Se Kecamatan Karanggeneng
Dalam rangka upaya memajukan pendidikan Madrasah di Kecamatan Karanggeneng , terutama dalam menghadapi UN mendatang. Pengawas Pendidikan Agama Islam mengadakan kegiatan rapat kepala MI se kecamatan Karanggeneng di MI Muhammadiyah Latukan. Acara yang dipimpin PPAI dan K3M tersebut dihadiri oleh seluruh kepala MI baik negeri maupun swasta se-Kec. Karanggeneng.
Acara rapat sebagaimana yang disampaikan PPAI Karanggeneng Bapak Mustari, M.Ag.. Dalam sambutannya, berpesan kepada seluruh kepala MI se kecamatan Karanggeneng agar tidak panik dalam menghadapi ujian nasional mendatang. "Tidak usah panik, kalau bapak/ibu panik, anak-anak juga akan panik". Karena didalam menghadapai ujian nasional (UN) membutuhkan suatu ketenangan untuk mencapai kesuksesan UN mendatang. "Saya berharap kepada bapak/ibu sekalian, tidak ada kegiatan yang mungkin membuat suasana menjadi mencekam". Kalau anak-anak ini tenang, berarti mereka telah memenangkan pertempuran 50%". Selain itu, Bapak Mustari, M.Ag. juga menganjurkan bahwa para kepala madrasah dapat membuat gembira hati para siswa dalam rangka menghadapi UN mendatang, terangnya.
Rabu, 10 April 2013
Pengorbanan Seorang Guru
Seyogyanya untuk kita semua mengamalkan dan berterima kasih kepada para Guru. Memang tidak boleh dinafikan betapa besarnya pengorbanan seorang guru dalam mendidik anak-anak menjadi orang yang berguna kepada diri, keluarga, masyarakat, agama dan negara.Kadang-kadang mereka mendidik anak-anak murid sehingga terkadang ada yang tidak sempat meluangkan waktu untuk anak-anak mereka sendiri. Namun apa yang kita harapkan adalah semua guru ikhlas dalam pengorbanan tersebut.
Insya Allah, Allah pasti akan membalas dengan ganjaran yang setimpal, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Keikhlasan itu sangatlah penting karena dari ikhlasnya guru yang mengajar, maka anak-anak didik mendapat ilmu yang barokah. Ilmu yang barokah inilah yang akan melahirkan anak-anak yang mampu menjadi pemuda-pemuda yang berilmu, beriman dan bertaqwa.
Dan juga, guru-guru perlu senantiasa mendidik jiwa, membetulkan niat dan mengikhlaskan segala pengajaran dan pengorbanan yang dilakukan. Guru-guru juga harus menyadari bahwa selain bertanggungjawab mengajar dan mendidik, guru juga memikul amanah yang berat keranah mereka turut berperanan membentuk akhlak serta jati diri anak didik. Guru mempunyai kelebihan dari aspek pengetahuan ilmu psikologi kanak-kanak dan kepakaran mengajar.
Insya Allah, Allah pasti akan membalas dengan ganjaran yang setimpal, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Keikhlasan itu sangatlah penting karena dari ikhlasnya guru yang mengajar, maka anak-anak didik mendapat ilmu yang barokah. Ilmu yang barokah inilah yang akan melahirkan anak-anak yang mampu menjadi pemuda-pemuda yang berilmu, beriman dan bertaqwa.
Dan juga, guru-guru perlu senantiasa mendidik jiwa, membetulkan niat dan mengikhlaskan segala pengajaran dan pengorbanan yang dilakukan. Guru-guru juga harus menyadari bahwa selain bertanggungjawab mengajar dan mendidik, guru juga memikul amanah yang berat keranah mereka turut berperanan membentuk akhlak serta jati diri anak didik. Guru mempunyai kelebihan dari aspek pengetahuan ilmu psikologi kanak-kanak dan kepakaran mengajar.
Sabtu, 23 Februari 2013
Keberhasilan Kurikulum 2013
Sedikitnya ada dua faktor besar
dalam ke berhasilan kurikulum 2013. Pertama, penentu, yaitu kesesuaian
kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) dengan kurikulum dan buku
teks. Kedua, faktor pendukung yang terdiri dari tiga unsur; (i) ketersediaan
buku sebagai bahan ajar dan sumber belajar yang mengintegrasikan standar pembentuk
kurikulum; (ii) penguatan peran pemerintah daam pembinaan dan pengawasan; dan
(iii) penguatan manajemen dan budaya sekolah.
Berkait dengan faktor pertama,
Kemdikbud sudah mendesain strategi penyiapan guru sebagaimana digambarkan
pada skema penyiapan guru yang meibatkan tim pengembang kurikulum di tingkat
pusat; instruktur diklat terdiri atas unsur dinas pendidikan, dosen, widyaswara,
guru inti, pengawas, kepala sekolah; guru utama meiputi guru inti, pengawas,
dan kepala sekolah; dan guru mereka terdiri atas guru kelas, guru mata
pelajaran SD, SMP, SMA, SMK.
Pada diri guru, sedikitnya ada
empat aspek yang harus diberi perhatian khusus dalam rencana implementasi dan
keterlaksanaan kurikulum 2013, yaitu kompetensi pedagogi; kompetensi akademik
(keilmuan); kompetensi sosial; dan kompetensi manajerial atau kepemimpinan.
Guru sebagai ujung tombak penerapan kurikulum, diharapkan bisa menyiapkan dan
membuka diri terhadap beberapa kemungkinan terjadinya perubahan.
Kesiapan guru lebih penting
daripada pengembangan kurikulum 2013. Kenapa guru menjadi penting? Karena
dalam kurikulum 2013, bertujuan mendorong peserta didik, mampu lebih baik dalam
melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan
(mempresentasikan), terhadap apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui
setelah menerima materi pembelajaran.
Rabu, 23 Januari 2013
CIRI GURU YANG MENGAJAR DENGAN BAIK
Mengajar yang baik bukan sekedar membuat anak sibuk sepanjang waktu. Diperlukan strategi untuk membuat murid yang ada di kelas tetap fokus dan senang belajar sampai jam pelajaran berakhir. Nah sekarang semuanya bergantung pada cara guru mengajar.
Semua pihak yang ada di sekolah punya hak untuk menilai dan mencermati bagaimana pengajaran yang baik itu dilakukan. Bahkan orang tua siswa pun yang bukan berprofesi sebagai pendidik bisa merasakan apakah seorang guru mengajar dengan baik atau tidak.
Indikator di bawah ini adalah hasil pengamatan dan hal yang saya rasakan jika seorang guru mengajar dengan baik
- saat menerangkan jelas, bicaranya sesuai dengan tingkatan umur siswa
- setelah memberikan tugas tidak lantas duduk di mejanya sendiri lalu asyik dengan laptop atau hape nya
- setelah memberikan tugas ia berjalan-jalan untuk memastikan anak-anak mengerti dan memotivasi anak yang sedang kesulitan
- rajin bertanya yang membuat siswa berpikir keras
- membawa sesuatu di tangannya, bukan cuma sekedar buku pegangan namun alat peraga dan hal yang bisa membuat siswanya paham
- komunikasi di kelas berjalan dengan baik. Guru mendengarkan siswa saat siswa bertanya, saat guru menerangkan siswa mendengar dan tidak ada satupun yang berbicara
- murid rileks karena tugas dari gurunya membuat ia bisa katakan ada dirinya sendiri; “aku bisa…”
- murid yang selesai duluan punya pekerjaan untuk dilakukan
Murid senang pada guru yang siap dalam mengajar dan guru yang tenang saat mendapatkan kesulitan atau pertanyaan yang sulit dari muridnya. Semua guru bisa dan mampu mengajar dengan baik asal ia pelihara alur komunikasi, budaya saling menghormati dan menempatkan diri dalam posisi siswa.
Sabtu, 15 Desember 2012
Rencana pemerintah untuk memberlakukan Kurikulum Baru di tahun 2013 tampaknya akan menjadi sebuah kepastian. Berdasarkan Draft Pengembangan Kurikulum 2013, diperoleh beberapa informasi esensial tentang berbagai usulan dan rencana perubahan yang akan dilakukan, khususnya berkaitan dengan: (1) Standar Kompetensi Lulusan; (2) Standar Proses; (3) Standar Isi; dan (4) Standar Penilaian.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, pengembangan kurikulum 2013 sebagai jawaban untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia hadapi perubahan dunia. ”Pengembangan dan perubahan kurikulum ini adalah sesuatu yang lazim saja untuk menciptakan anak didik yang kompeten dan bisa dipertanggungjawabkan,” kata Nuh saat menyampaikan materi uji publik pengembangan kurikulum 2013 di Jakarta.
Namun, setelah menyimak seluruh isi Draft Pengembangan Kurikulum 2013, saya tidak menemukan satu kalimat pun tentang Bimbingan dan Konseling. Dalam hati saya bertanya: “Apakah ini suatu kesengajaan atau memang telah terjadi fatal error dalam perumusan kurikulum?” Kegelisahan dan keheranan semakin menguat setelah melihat usulan rencana perubahan dalam struktur kurikulum yang didalamnya menyebutkan “Pengembangan diri terintegrasi pada setiap mata pelajaran dan ekstrakurikuler”. Terdapat juga beberapa mata pelajaran yang disatukan.
Kalau anda ingin mengunduh materi: Draft Pengembangan Kurikulum 2013 silahkan KLIK LINK INI
Semoga bermanfaat:
Selasa, 04 Desember 2012
1. Rendah hatiKarakter ini membuat seorang guru berpikiran terbuka serta mudah menerima hal-hal baru. Di depan siswa atau sesama guru ia terus terang jika tidak tahu. Maklum ditengah pesatnya pertumbuhan dan akses kepada informasi, semua orang benar-benar mesti belajar kembali dan bersedia menjadi seorang pembelajar. Hal ini membuat ia menjadi mitra belajar yang mengasyikkan bagi siswa dan sesama guru. Karakter rendah hati juga menjadi pembuka jalan bagi masuknya ilmu baru. Di sebuah sekolah jika semua gurunya rendah hati akan terjadi transfer ilmu dan terbentuk komunitas pembelajar, karena semua orang dihargai dari apa kontribusi tenaga dan ilmunya dan bukan dari seberapa seniornya ia di sekolah.
2. Pandai mengelola waktu
Sebagai seorang yang bekerja dengan administrasi serta tugas mengajar yang banyak setiap minggunya, guru dituntut untuk pandai mengelola waktu. Bukan cuma siswa dikelas saja yang punya hak terhadap diri kita, namun juga keluarga terdekat kita di rumah yang memerlukan perhatian. Guru yang pandai mengelola waktu membedakan prioritas dalam bekerja, mana yang mesti dikerjakan sekarang atau yang mesti digarap secara bertahap.
3. Menghargai proses.
Saat mengajar sering kita pulang ke rumah dalam keadaan yang sangat lelah. Sering juga kita dilanda kebosanan sambil berucap dalam hati “seperti inikah rasanya jadi guru”. Sebagai manusia biasa wajar sekali jika perasaan itu datang. Semua perasaan tersebut akan hilang jika sebagai guru kita menghargai proses. Proses yang saya maksud adalah seperti jalannya atau perputaran alam semesta yang kita rasakan. Ada pagi ada siang, ada gelap dan ada terang. Jika suatu saat kita gagal atau belum berhasil dalam mengajar, hargailah usaha yang diri kita sendiri lakukan. Sebab mengingat-ingat kegagalan tanpa memandang atau menghargai usaha diri kita sendiri akan membuat malas di kemudian hari untuk melakukan inovasi dalam mengajar. Ada perasaan khawatir atau takut untuk berubah hanya karena pernah gagal. Jika itu terjadi siswa yang akan jadi korban karena sebagai guru anda akan tampil biasa-biasa saja dan miskin inovasi.
4. Berpikiran terbuka
Informasi dan ilmu pengetahuan berkembang dan bertambah sedemikian pesatnya. Dalam hitungan detik informasi bertambah dengan cepat. Saat ini informasi ada di mana saja, semua tersedia tinggal bagaimana seseorang dengan pikirannya bisa mencerna dan memanfaatkan. Sebagai seorang guru sikap berpikiran terbuka inilah yang paling bermakna saat ini untuk diterapkan. Dengan berpikiran terbuka guru jadi mudah untuk menerima perbedaan dan senang akan perubahan. Di kelas dan sekolah sejak dulu siswa dibagi menjadi murid yang ‘pintar’, ‘bodoh’ dan ‘sedang-sedang saja’. Belum ada pikiran yang terbuka yang mengatakan bahwa setiap anak adalah unik dan bisa menjadi ‘juara’ di bidangnya masing-masing. Saat guru berpikiran terbuka ia akan bisa sekuat tenaga membuat setiap siswa di kelasnya meraih masa depan sesuai potensinya. Dengan pikiran terbuka guru juga jadi mudah untuk menyerap ilmu dari siapa saja tanpa mesti katakan “aah saya sudah tahu” atau “ah saya sudah pernah menerapkan” karena di masa sekarang ini ilmu bisa datang dari siapa saja, ia bisa datang dari buku dan media massa, sesama guru, orang tua siswa bahkan dari siswa kita di kelas.
5. Percaya diri
Bedakan antara rasa percaya diri dan sombong. Dalam mempersiapkan dan merencanakan pengajaran di kelas bisa saja guru mengatakan semua yang akan diajarkannya sudah ada di ‘luar kepala’ hal ini berarti sama saja mengatakan sebagai guru ia anti terhadap kegiatan belajar lagi. Padahal bukan seperti itu guru yang percaya diri. Guru yang percaya diri akan sekuat tenaga mempersiapkan sambil tetap percaya diri jika ada masalah yang timbul saat ia sedang melaksanakan perencanaan pengajarannya. Ia yakin sesulit apapun masalah yang timbul saat ia sedang melaksanakan hasil perencanaan pengajarannya, tetap akan memberikan pengalaman dan masukan bagi karier mengajarnya di masa depan.
2. Pandai mengelola waktu
Sebagai seorang yang bekerja dengan administrasi serta tugas mengajar yang banyak setiap minggunya, guru dituntut untuk pandai mengelola waktu. Bukan cuma siswa dikelas saja yang punya hak terhadap diri kita, namun juga keluarga terdekat kita di rumah yang memerlukan perhatian. Guru yang pandai mengelola waktu membedakan prioritas dalam bekerja, mana yang mesti dikerjakan sekarang atau yang mesti digarap secara bertahap.
3. Menghargai proses.
Saat mengajar sering kita pulang ke rumah dalam keadaan yang sangat lelah. Sering juga kita dilanda kebosanan sambil berucap dalam hati “seperti inikah rasanya jadi guru”. Sebagai manusia biasa wajar sekali jika perasaan itu datang. Semua perasaan tersebut akan hilang jika sebagai guru kita menghargai proses. Proses yang saya maksud adalah seperti jalannya atau perputaran alam semesta yang kita rasakan. Ada pagi ada siang, ada gelap dan ada terang. Jika suatu saat kita gagal atau belum berhasil dalam mengajar, hargailah usaha yang diri kita sendiri lakukan. Sebab mengingat-ingat kegagalan tanpa memandang atau menghargai usaha diri kita sendiri akan membuat malas di kemudian hari untuk melakukan inovasi dalam mengajar. Ada perasaan khawatir atau takut untuk berubah hanya karena pernah gagal. Jika itu terjadi siswa yang akan jadi korban karena sebagai guru anda akan tampil biasa-biasa saja dan miskin inovasi.
4. Berpikiran terbuka
Informasi dan ilmu pengetahuan berkembang dan bertambah sedemikian pesatnya. Dalam hitungan detik informasi bertambah dengan cepat. Saat ini informasi ada di mana saja, semua tersedia tinggal bagaimana seseorang dengan pikirannya bisa mencerna dan memanfaatkan. Sebagai seorang guru sikap berpikiran terbuka inilah yang paling bermakna saat ini untuk diterapkan. Dengan berpikiran terbuka guru jadi mudah untuk menerima perbedaan dan senang akan perubahan. Di kelas dan sekolah sejak dulu siswa dibagi menjadi murid yang ‘pintar’, ‘bodoh’ dan ‘sedang-sedang saja’. Belum ada pikiran yang terbuka yang mengatakan bahwa setiap anak adalah unik dan bisa menjadi ‘juara’ di bidangnya masing-masing. Saat guru berpikiran terbuka ia akan bisa sekuat tenaga membuat setiap siswa di kelasnya meraih masa depan sesuai potensinya. Dengan pikiran terbuka guru juga jadi mudah untuk menyerap ilmu dari siapa saja tanpa mesti katakan “aah saya sudah tahu” atau “ah saya sudah pernah menerapkan” karena di masa sekarang ini ilmu bisa datang dari siapa saja, ia bisa datang dari buku dan media massa, sesama guru, orang tua siswa bahkan dari siswa kita di kelas.
5. Percaya diri
Bedakan antara rasa percaya diri dan sombong. Dalam mempersiapkan dan merencanakan pengajaran di kelas bisa saja guru mengatakan semua yang akan diajarkannya sudah ada di ‘luar kepala’ hal ini berarti sama saja mengatakan sebagai guru ia anti terhadap kegiatan belajar lagi. Padahal bukan seperti itu guru yang percaya diri. Guru yang percaya diri akan sekuat tenaga mempersiapkan sambil tetap percaya diri jika ada masalah yang timbul saat ia sedang melaksanakan perencanaan pengajarannya. Ia yakin sesulit apapun masalah yang timbul saat ia sedang melaksanakan hasil perencanaan pengajarannya, tetap akan memberikan pengalaman dan masukan bagi karier mengajarnya di masa depan.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



